Minat Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR) FK-KMK UGM telah mengadakan webinar bertajuk “Dua Tantangan Bisnis Perumahsakitan Saat Ini” pada 2 Mei 2025 secara hybrid di Auditorium Tahir lantai 1. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman manajerial dalam menghadapi tantangan bisnis rumah sakit serta mendorong transformasi digital dan inovasi di sektor layanan kesehatan.
Webinar dibuka oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, yang memperkenalkan narasumber utama, dr. Totot Moenardi, MMR. Beliau merupakan praktisi manajemen rumah sakit sekaligus alumni MMR UGM angkatan 1995. Dalam pengantarnya, Prof. Laksono menyoroti pentingnya kolaborasi antar rumah sakit dan pertanyaan fundamental, “Apakah rumah sakit yang berdiri sendiri akan mampu bertahan di era kompetisi saat ini?”
Sesi kemudian dilanjutkan oleh pemaparan dr. Totot yang menjelaskan dua tantangan utama dihadapi dunia perumahsakitan saat ini, yakni rumah sakit sebagai entitas bisnis dan tekanan akibat krisis multidimensi di era Digitalisasi, Globalisasi, dan Futurisasi (DGF). Tantangan bukan hanya berasal dari aspek pembangunan fisik atau infrastruktur rumah sakit melainkan dari bagaimana menghadirkan layanan yang tidak hanya normatif tetapi juga nyaman dan berkesan bagi pasien. Menurutnya, rumah sakit kini berada di pasar yang menyerupai persaingan sempurna. Dalam pasar ini, pelanggan saling memengaruhi melalui internet dan ekspektasi terhadap layanan makin tinggi. Oleh karena itu, pendekatan manajerial berbasis strategi, empati terhadap pelanggan, dan sense of ownership menjadi kunci utama agar rumah sakit tetap relevan. Kemudian, dr. Totot menambahkan bahwa transformasi manajemen rumah sakit di era DGF mencakup konsep Value for Money tanpa adanya penipuan, pemaksaan, atau pembenaran. Rumah sakit harus mampu menghadirkan komitmen, integritas, dan totalitas, serta menyediakan layanan yang memberi Positive Memorable Experience (PME) bagi pasien.

Selanjutnya, dr. Totot juga menghimbau bahwa seluruh pemangku kebijakan rumah sakit perlu didorong untuk mengadopsi jiwa entrepreneurship yang bukan hanya secara semata berpikir mekanistik atau intuitif. Hal ini penting agar setiap pengambil keputusan memiliki sense of crisis, sense of urgency, dan mampu menciptakan solusi yang visioner. Konsep sinergi yang benar dalam pengelolaan rumah sakit bahkan dianalogikan sebagai 1 + 1 = tak terhingga bukan hanya sekadar 2 atau 11. Analogi tersebut menggambarkan bahwa setiap modal dan sinergi yang kita miliki dalam pengelolaan rumah sakit harus menghasilkan luaran yang berdampak lebih untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Sesi diskusi bersama peserta webinar memperlihatkan dinamika nyata di lapangan. Salah satu peserta dari RS swasta menyebut bahwa rumah sakit perlu diposisikan sebagai industri sejak awal. Sementara Prof. Laksono menyoroti ketimpangan kompetisi di kawasan Asia Tenggara dan rendahnya kontribusi GDP untuk sektor kesehatan di Indonesia yang hanya sekitar 3%. Kritik juga datang dari seorang mahasiswa yang menyoroti tantangan di daerah seperti Pekalongan. Salah satu kasus menunjukkan bahwa pasien di Pekalongan belum diperlakukan sebagai pelanggan dan sumber daya manusia medis kerap memilih pindah ke kota besar. Menanggapi hal ini, dr. Totot menyarankan pendekatan inovatif dengan menganalogikan produk rumah sakit seperti buah durian: harus jelas fitur, manfaat, dan solusi yang ditawarkan agar bisa bersaing.

Webinar ini memperlihatkan bahwa transformasi rumah sakit tidak hanya soal teknologi tetapi juga budaya kerja, nilai, dan cara pandang terhadap pelayanan kesehatan. Rumah sakit perlu memiliki keahlian untuk adaptif, kreatif, dan mampu membangun kepercayaan jangka panjang dengan pasien sebagai inti dari bisnis kesehatan di era ketatnya persaingan.
Reporter: Nikita Widya Permata Sari, S.Gz
Dokumentasi: Lintang Kirana